14 Desember 2019

Belajar Merintis Bisnis dari Pendiri Royal Golden Eagle, Sukanto Tanoto


Belajar Merintis Bisnis dari Pendiri Royal Golden Eagle, Sukanto Tanoto
Sumber: inside-rge.com

Membangun bisnis dari nol jelas bukan perkara mudah. Butuh modal yang tidak sedikit, kerja keras dan kesabaran. Tiga modal tersebut selalu melekat dalam diri setiap pengusaha besar. Ketiga hal tersebut juga dapat dijumpai dalam diri seorang Sukanto Tanoto saat mendirikan kerajaan bisnisnya, Royal Golden Eagle.

Saat ini, grup bisnis Royal Golden Eagle yang didirikan oleh Sukanto Tanoto memang dikenal sebagai salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia. Di panggung dunia, unit bisnis RGE juga memiliki reputasi yang cukup disegani. Sebut saja seperti APRIL Group, Asian Agri, Apical, Sateri hingga Pacific Oil & Gas. Meski demikian, semua pencapaian itu berhasil diraih Sukanto Tanoto setahap demi setahap.

Putus Sekolah Demi Menjalankan Bisnis Keluarga


Lahir dari sepasang imigran asal Putien, Provinsi Fujian, Tiongkok membuat Sukanto Tanoto tidak begitu fasih berbahasa Indonesia. Sekolah berbahasa Mandarin tempat ia mengenyam bangku pendidikan juga tidak mengajarkan Sukanto Tanoto bahasa Indonesia. Ia belajar bahasa Indonesia justru secara informal atau dari pergaulan.

Perjalanan bisnis Sukanto Tanoto dalam membangun bisnisnya dimulai sejak ia masih sangat belia. Pada tahun 1966, sebelum menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atasnya, Sukanto Tanoto muda memutuskan untuk keluar sekolah demi membantu ayahnya menjalankan bisnis keluarga.

Sukanto Tanoto memang merupakan anak tertua dalam keluarganya. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk meneruskan bisnis yang telah dirintis oleh sang ayah.

Pada saat itu, ayah Sukanto Tanoto memang sudah memiliki 3 perusahaan yang bergerak dalam bisnis jual beli. Berawal dari bisnis inilah, Sukanto Tanoto menemukan jalan untuk mengembangkan kerajaan bisnisnya sendiri yang kini kita kenal dengan nama Royal Golden Eagle.

Mendirikan Bisnis Sendiri dan Mengembangkannya


Bisnis jual beli yang dibangun oleh sang ayah kemudian dilanjutkan oleh Sukanto Tanoto. Namun tidak sekedar melanjutkan perusahaan yang diwarisi, ia juga mulai membangun bisnisnya sendiri. Proses membangun bisnis mandiri ini dilakukan Sukanto Tanoto secara bertahap.

Pada saat itu, bisnis yang ia jalankan masih terbatas pada bisnis jual beli. Secara perlahan, ia mulai merambah ke bisnis lain dan membangun pipa gas untuk perusahaan multinasional. Dipicu oleh krisis minyak yang terjadi di timur tengah, bisnis ini pun semakin melesat pada tahun 1972.

Pada tahun 1973, Sukanto Tanoto mulai merambah bisnis lain. Pada saat itu, ia mulai memasuki industri kayu lapis. Bisnis ini juga terus berkembang berkat kerja keras dan reputasinya yang baik. Tidak berhenti di situ saja, Sukanto Tanoto terus mengembangkan bisnisnya ke berbagai sektor industri.

Kembali Mengenyam Bangku Pendidikan Demi Menjangkau Pasar Global


Bisnis energi dan kayu lapis yang dijalankan oleh Sukanto Tanoto menuai kesuksesan besar. Ia pun kembali melanjutkan pengembangan bisnisnya dan mulai memasuki industri berikutnya, yakni kelapa sawit. Dalam bisnis kelapa sawit, Sukanto Tanoto bahkan membangun pabrik yang terintegrasi mulai dari perkebunan hingga kilang penyulingan.

Pada tahun 1994, unit bisnisnya yang lain, yakni APRIL Group mulai berdiri. Bisnis yang bergerak dalam industri pulp dan kertas ini juga berkembang dengan sangat cepat. Namun pencapaian tersebut membuat Sukanto Tanoto tersadar. Pada titik ini, ia tidak akan bisa melangkah lebih jauh lagi tanpa memiliki pendidikan yang cukup.

Demi menjangkau pasar global, Sukanto Tanoto kembali ke bangku pendidikan. Ia melanjutkan pendidikannya dan mengikuti kursus di INSEAD, Wharton, Harvard dan Carnegie Mellon.

Selama membangun bisnis, banyak ujian yang harus dihadapi Sukanto Tanoto. Pada krisis finansial yang melanda Asia dan Indonesia, ia sempat terlilit hutang dalam jumlah yang begitu besar, bahkan terpaksa menutup salah satu perusahaannya. Meski demikian, ia tidak pernah menyerah dan terus bekerja keras. Itulah yang membuatnya bisa bertahan hingga menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.